'Tangan Sakti' APH utak-atik Solar Subsidi ke Galian C Ilegal, Pertamina Mati Langkah?
Lombok Timur - Di tengah sulitnya masyarakat mendapatkan BBM jenis Solar subsidi, justru para penambang ilegal di sejumlah titik Galian C seolah dimudahkan. Faktanya kemudahan itu diduga akibat campur tangan dari Aparat Penegak Hukum (APH).
Seperti halnya diungkapkan salah seorang pelaku tambang ilegal di Lombok Timur, untuk BBM pengoperasian alat berat, dirinya mendapat dari oknum anggota kepolisian. Keterangan itu ia ungkapkan saat media ini menelusuri jejak aliran dana dan adanya bekingan dari APH ke galian ilegal.
Di mana sejatinya, ujung dari aktifitas tambang ilegal tersebut hanya pada rusaknya tatanan ekonomi masyarakat. Terbukti dengan murkanya masyarakat beberapa waktu belakangan. Kantor Pemda dan Kepolisian menjadi target aksi besar-besaran demonstrasi.
Sumber media ini menyebut, selain menyetorkan sejumlah uang pengamanan. Dirinya juga mendapatkan BBM Solar subsidi itu dari oknum anggota Tipidter Polres Lombok Timur inisial I dan Y.
"Untuk BBM kami tinggal menunggu arahan dari I dan Y. Nanti kami diminta membayar melalui mereka dan diarahkan mengambil di SPBU mana," ungkap sumber.
Keterangan itu ia kemukakan melengkapi informasi terkait adanya fee dan bekingan APH perihal aktifitas terlarang tersebut. Sebelumnya, sumber juga menyebut jika dirinya menyetorkan sejumlah uang kepada beberapa instansi.
"Awal mula membuka usaha harus menyetorkan puluhan juta melalui Brimob. Kemudian nantinya kami dihubungkan dengan pihak Polres," ucapnya.
Aliran itupun kata sumber, dikeluarkan ke sejumlah pihak. Di antaranya, Brimob Lombok Timur, Reskrim Polres Lombok Timur, dan Subdit Tipidter Polda NTB.
Sementara itu, pihak Pertamina sendiri belum mau membuka suara perihal saktinya APH dalam melakukan utak-atik perihal BBM jenis Solar subsidi tersebut. Padahal saat ini, kondisi di masyarakat sedang dalam kesulitan di tengah limitnya stok BBM.

Posting Komentar untuk " 'Tangan Sakti' APH utak-atik Solar Subsidi ke Galian C Ilegal, Pertamina Mati Langkah?"